Jakarta (15/6). Organisasi perlu melibatkan pemuda di banyak kegiatan terutama publikasi dan media. Pelibatan tersebut merupakan investasi masa depan, agar generasi hari ini sepiawai dan berpengalaman sebagaimana para senior atau mentornya.
Pernyataan itu disampaikan Rulli di hadapan 50-an peserta Master Course LINES LDII – Awareness Session yang digelar DPW LDII DKI Jakarta pada Minggu (14/6). Acara itu menjadi wadah generasi muda melatih kompetensi dalam komunikasi dan literasi digital, sekaligus membangun kolaborasi antarpemuda.
Rulli mengatakan, LDII sejak 2009 telah meluncurkan Gerakan Internet Sehat. Hal itu untuk mempublikasikan kegiatan LDII sekaligus meningkatkan profiling indeks google. “Orang biasanya mengecek latar belakang institusi atau personal melalui Google, itu yang menjadi concern Departemen KIM (Komunikasi, Informasi, Media) DPP LDII,” ujarnya.
Karena itu, menurut Rulli, generasi muda harus melek media, teknologi digital dan juga mengenal kinerja LDII. “LDII tidak melulu urusan politik, organisasi juga membutuhkan kreativitas pemuda untuk publikasi dan dokumentasi. Dan ini juga menjadi ladang amal saleh yakni dakwah di media sosial,” jelasnya.
Lewat acara itu, Rulli berharap, generasi muda bisa aktif memberikan sumbangsih dari sisi media sosial dan komunikasi digital. “Apalagi media sosial sudah sangat akrab dengan pemuda sekarang,” kata dia.
Dia juga berharap generasi muda Jakarta berkembang, menciptakan lingkungan positif yang sesuai gaya generasi muda. “Ciptakan circle pemuda yang bisa membawa pada kebaikan,” ujarnya.
Senada dengan Rulli, Wakil Ketua DPW LDII DKI Jakarta, Muhammad Ied mengatakan, pihaknya mengadakan kursus untuk menaikkan algoritma mengenai kinerja LDII, sekaligus menggandeng generasi muda yang kompeten. “Ini menjadi rangkaian kegiatan yang nantinya generasi muda diharapkan meningkatkan kemampuan digital sekaligus berkolaborasi,” katanya.
Sementara itu, Plh Sekretaris DPW LDII DKI Jakarta, Inu Subiakto mengatakan perkembangan media sosial dan media baru, mempengaruhi cara komunikasi dan beribadah. “Hampir semua orang memiliki akun media sosial, karena itu LDII juga gencar melakukan media sosial yang sehat,” kata dia.
Inu juga mengatakan, bebasnya informasi secara global itu juga tentunya mempengaruhi cara LDII berdakwah dengan memanfaatkan media sosial. Karena itu Inu menegaskan, LDII membutuhkan generasi muda yang aktif bermedia sosial tapi mau sekaligus berdakwah.
Sementara itu fotografer yang juga narasumber hari itu, BK Awangga mengatakan, ia mengapresiasi kegiatan pembinaan generasi muda tersebut. Generus LDII perlu terus menggali potensi dan belajar lebih banyak tidak hanya satu keterampilan, “Fotografi misalnya, dari sana kita bisa mengembangkan diri, adaptasi, dan kerjasama dengan komunikasi visual,” kata dia.
Karenanya dengan acara itu, berikutnya peserta diharapkan mampu menemukan potensi minat dan bakat, serta meningkatkan kontribusi, karya, dan komunikasi dengan LDII.

