Surabaya (23/5). DPW LDII Jawa Timur menggelar bedah buku “Sistem, Model dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius dari Sabang sampai Merauke”. Buku tersebut merupakan karya cendekiawan NU Ahmad Ali MD, yang digelar di Gedung Auditorium UIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (10/5/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri organisasi-organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang ada di Jawa Timur, “Pendidikan di lingkungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dalam penelitian saya memiliki sistem yang terstruktur, sistematis, dan seragam secara nasional,” papar Ahmad Ali MD.
Ia juga menekankan pentingnya sikap terus belajar bagi setiap individu tanpa memandang latar belakang. Menurutnya belajar itu bisa dari mana saja, “Dengan belajar, kita akan mengetahui, dan dengan mengetahui kita bisa menghindarkan kesalahpahaman dan permusuhan,” ujarnya.
Ahmad Ali menjelaskan ketidaktahuan kerap menjadi akar konflik sosial. Hal tersebut juga terjadi dalam konteks pemahaman masyarakat terhadap LDII, “Ketidaktahuan tentang LDII, termasuk sistem pendidikannya, bisa menjadi faktor munculnya kebencian. Karena itu, siapapun harus terus berusaha belajar,” katanya.
Ia menuturkan, buku yang ditulisnya berupaya memberikan gambaran menyeluruh mengenai sistem pendidikan LDII. Menurutnya, buku tersebut dapat memperkuat wawasan publik sekaligus meminimalkan potensi prasangka negatif, “Buku ini adalah karya keduanya saya. Sebelumnya, saya telah menerbitkan buku bertema nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sosial warga LDII,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan buku tersebut memotret keseragaman sistem pendidikan LDII di berbagai daerah di Indonesia. Ia menemukan bahwa sistem tersebut terstruktur dan sistematis, serta dikemas dalam kerangka 29 karakter luhur, “Intinya, sistem pemahaman itu dibingkai dalam 29 karakter luhur yang diharapkan membentuk generasi LDII yang profesional,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ketua Lembaga Dakwah PBNU, Abdullah Syamsul Arifin menilai buku yang dibedah memiliki dasar akademik yang kuat dan layak disebut sebagai karya ilmiah, “Penulisnya punya otoritas dengan kajian dari berbagai perspektif, baik studi lapangan maupun referensi. Ini memadai dan bisa menjadi rujukan untuk memahami sistem pendidikan dan kaderisasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, penting bagi masyarakat untuk tidak menilai organisasi hanya dari perilaku sebagian anggotanya yang kerap memunculkan stigma negatif. Menurutnya, hal tersebut juga terjadi pada Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, maupun LDII.
“Kami menekankan pentingnya memperkuat pertemuan antarormas guna membangun saling mengenal (taaruf), memahami (tafahum), dan bekerja sama (taawun). Kalau sudah saling memahami, kerja sama akan terbangun, dan jika ada kekurangan bisa saling melengkapi,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, M. Amrodji Konawi, mengapresiasi terbitnya buku tersebut. Ia menilai kajian yang dilakukan penulis bersifat objektif karena dilakukan oleh pihak luar organisasi.
“Saya merasa bersyukur dan berterima kasih karena hasil riset ini dibukukan. Ini menjadi kajian yang fair karena dilakukan oleh pihak luar, sehingga apa yang ditulis merupakan gambaran yang proporsional sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Ia menerangkan, kehadiran buku tersebut penting untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat mengenai LDII, sekaligus meluruskan informasi yang selama ini beredar, “Melalui buku ini, masyarakat bisa mengetahui secara lebih utuh bagaimana LDII. Ini berbeda dengan informasi yang hanya berdasarkan katanya-katanya,” tutupnya.











