Bandar Lampung (29/6). Ketua Departemen KIM DPP LDII, Ludhy Cahyana mengatakan, fenomena post-truth membuat seseorang menjadi bingung, apa sebuah informasi benar atau salah. Hal itu ia ungkapkan saat mengisi “Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar LDII Lampung”, di kantor DPW LDII Lampung, pada Minggu (28/6), diikuti 90-an peserta.
“Post-truth membuat batas semakin tipis, antara kebenaran dan kebohongan. Kejujuran dan penipuan. Sehingga ada kecenderungan, masyarakat lebih mencari pembenaran, daripada kebenaran,” ujar Ludhy.
Melihat fenomena tersebut, Ludhy menegaskan, tidak semua yang disebarkan seseorang bersifat benar, “Maka diperlukan sosialisasi literasi digital dan bijak bermedia sosial, untuk bisa memilah dan memilih, serta memanfaatkan teknologi digital,” pungkasnya.
Ia mengungkapkan, saat ini, tanpa disadari, seseorang telah menjadi pegawai dari aplikasi media sosial tertentu tanpa bayaran. “Di mana, data kita diserahkan pemilik aplikasi kepada pemilik produk tertentu. Sehingga, dapat dimanfaatkan oleh sebagai sasaran iklan,” katanya.
Maka solusinya, agar tidak menjadi objek yang dirugikan dari penggunaan media sosial, Ludhy mengajak peserta pelatihan jurnalistik untuk menggunakan media sosial secara positif. “Misalnya, digunakan untuk berjualan. Dan lebih baik lagi, jika mampu menggunakan media sosial untuk berdakwah, mempublikasikan kontribusi dan karya LDII di tengah masyarakat, serta memproduksi konten yang bermanfaat,” katanya.
Senada, Ketua DPW LDII Lampung, M Aditya mengajak peserta untuk memasifkan pemberitaan LDII Lampung di media massa dan media sosial. “Kita harus menjadi produsen informasi. Komunikasikan karya dan kontribusi LDII melalui berita dan konten yang positif,” tegasnya.

