Oleh Wilnan Fatahillah*
Selama ini, ketika berbicara tentang akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah), pikiran kita sering kali langsung tertuju pada sikap ramah kepada sesama manusia, menghormati orang tua, atau bersikap jujur dalam berniaga. Kita jarang atau mungkin belum terbiasa memperluas ruang lingkup akhlak tersebut hingga menyentuh pohon-pohon yang berdiri tegak, air yang mengalir di sungai, hingga hamparan tanah tempat kita berpijak. Padahal, dalam sistematika Islam yang kaffah, ruang lingkup moralitas tidaklah sempit. Iman kita tidak hanya diuji melalui Hablum Minallah (hubungan dengan Allah) dan Hablum Minannas (hubungan dengan manusia) semata. Ada satu pilar krusial yang menyempurnakan segitiga kesalehan hidup kita: Hablum Minal Bi’ah, yaitu akhlak, etika, dan adab manusia terhadap alam dan lingkungan hidupnya.
Langkah pertama dalam membangun akhlak lingkungan adalah merombak cara pandang kita terhadap alam. Di mata seorang mukmin yang memiliki kejernihan hati, alam semesta bukanlah sekadar benda mati atau komoditas ekonomi yang bebas dieksploitasi tanpa batas. Alam adalah entitas yang hidup secara spiritual; mereka adalah sesama makhluk ciptaan Allah yang tunduk dan bertasbih kepada-Nya dengan cara mereka sendiri. Allah SWT mengingatkan realitas spiritual ini dalam QS. Al-Isra’: 44:
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.”
Ketika kita menanam pohon, merawat tanaman, atau membersihkan sungai, kita sebenarnya sedang menjaga keberlangsungan “paduan suara tasbih” alam semesta kepada Sang Pencipta. Sebaliknya, ketika kita merusak hutan atau meracuni ekosistem, kita sedang membungkam makhluk-makhluk Allah yang sedang berzikir. Menyadari hal ini akan melahirkan rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam di dalam dada kita terhadap alam sekitar.
Rasulullah ﷺ adalah sosok yang dikirim Allah untuk menyempurnakan akhlak (li-utammima shalihal akhlaq). Dan keteladanan akhlak beliau tidak berhenti pada manusia saja, melainkan tumpah ruah kepada alam dan binatang. Di dalam kitab-kitab hadis, tercatat betapa detailnya Rasulullah ﷺ meletakkan adab berinteraksi dengan lingkungan:
a. Adab terhadap air: Beliau melarang keras mengotori sumber air bersih. Nabi ﷺ bersabda:
لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي المَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لاَ يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ
“Janganlah salah seorang di antara kalian kencing di air yang diam (tergenang) yang tidak mengalir, kemudian ia mandi di dalamnya.” (HR. Bukhari no. 239).
b. Adab terhadap flora dan fauna: Bahkan dalam situasi perang yang penuh ketegangan pun, Rasulullah ﷺ dengan tegas melarang pasukan muslim untuk menebang pohon-pohon yang berbuah, membakar ladang, atau membunuh hewan-hewan ternak secara sia-sia. Jika dalam kondisi perang saja kelestarian alam wajib dilindungi, maka sungguh tidak berakhlak jika di masa damai kita merusak alam demi ego dan keserakahan pribadi.
Bagi kita yang mungkin selama ini masih abai, sering menyisakan makanan hingga menjadi sampah emisi, gemar menggunakan plastik sekali pakai tanpa kontrol, atau malas memilah sampah, pertanyaannya: Bisakah akhlak buruk ini diubah? Jawabannya adalah sangat bisa. Sifat abai dan merusak terhadap alam bukanlah karakter bawaan mati yang tidak bisa diperbaiki. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali menegaskan bahwa jika hewan yang buas saja bisa dijinakkan dan dilatih budi pekertinya melalui metode yang tepat, maka manusia yang dianugerahi akal tentu jauh lebih bisa mengarahkan nafsunya. Allah SWT membuka pintu perubahan itu secara lebar melalui QS. Ar-Ra’d: 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Untuk mengubah akhlak lingkungan dari pribadi yang destruktif (mufsid) menjadi pribadi yang transformatif dan membawa perbaikan (mushlih), tasawuf Islam memberikan dua tahapan latihan jiwa (riyadah) yang sangat aplikatif:
a. Metode Al-Takhalli (Membersihkan Diri): Paksa diri kita untuk menghentikan kebiasaan buruk terhadap alam. Lawan rasa malas untuk mencari tempat sampah, tahan ego untuk tidak menyalakan lampu atau pendingin ruangan saat tidak digunakan, dan stop kebiasaan membuang-buang makanan (tabdzir).
b. Metode Al-Tahalli (Menghias Diri dengan Kebiasaan Baru): Gantikan kebiasaan buruk dengan tindakan hijau yang konsisten secara berulang-ulang hingga mendarah daging menjadi karakter. Mulailah membawa botol minum sendiri untuk menekan sampah plastik, rawatlah minimal satu tanaman di rumah, dan hematlah penggunaan air saat berwudu.
Bagaimana proses konkretnya agar kesadaran lingkungan ini tidak hanya menjadi teori di kepala, melainkan menjelma menjadi karakter yang melekat pada diri seorang muslim? Dalam psikologi Islam pembentukan karakter tidak terjadi dalam semalam. Ia harus melewati sebuah proses transformasi bertahap yang kita sebut sebagai “Tangga Ekologis”. Sebagai contoh, untuk meraih “Perilaku Mengelola Sampah Plastik Sekali Pakai”, perlu dilakukan tahapan-tahapan:
Level 1: Etika Lingkungan (Tahu Aturan)
Ini adalah fondasi paling awal. Seseorang berada di level ini ketika ia baru sebatas mengetahui dan mematuhi aturan tertulis atau hukum positif yang berlaku di masyarakat. Contoh Konkret: Anda menahan diri untuk tidak membuang sampah plastik ke sungai semata-mata karena tahu ada Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur denda bagi pembuang sampah, atau karena takut ditegur oleh orang sekitar.
Level 2: Adab Lingkungan (Sentuhan Sopan Santun)
Naik ke tangga berikutnya, kepatuhan tidak lagi digerakkan oleh rasa takut pada denda, melainkan karena munculnya kesadaran moral, estetika, dan kehalusan budi pekerjanya sebagai makhluk sosial. Contoh Konkret: Saat selesai makan di tempat umum, Anda tidak meninggalkan botol plastik begitu saja di meja. Anda secara sadar memungutnya, berjalan mencari tempat sampah, dan memilahnya ke dalam kotak “sampah anorganik”. Anda melakukannya demi menjaga keindahan lingkungan dan menghormati hak kenyamanan orang lain yang akan menggunakan meja tersebut.
Level 3: Akhlak Lingkungan (Spontanitas Karena Iman)
Di level ini, tindakan merawat alam sudah berpindah dari ranah sosial ke ranah transendental (spiritual). Tindakan hijau dilakukan secara spontan, tanpa beban, dan lahir dari rasa takut serta cinta kepada Allah (Muraqabah). Contoh Konkret: Ketika Anda sedang berjalan sendirian di tengah hutan sepi tanpa ada kamera CCTV maupun orang lain yang melihat, Anda melihat sebuah botol plastik tergeletak di tanah. Tanpa berpikir panjang dan tanpa ada keinginan untuk dipuji, Anda langsung memungutnya. Mengapa? Karena hati Anda berbisik bahwa Allah sedang melihat Anda, dan Anda ingin bumi yang sedang bertasbih ini bersih dari noda. Tindakan memungut sampah ini terjadi secara refleks dan spontan.
Level 4: Karakter Lingkungan (Jati Diri Hijau)
Inilah puncak tertinggi dari metode transformasi ini. Ketika Akhlak Lingkungan di level 3 dipraktikkan secara konsisten selama bertahun-tahun, ia akan mengkristal menjadi Karakter (Character/Tabiat). Pada tahap ini, nilai-nilai kelestarian alam telah mendarah daging dan menjadi identitas mutlak dari kepribadian Anda. Contoh Konkret: Anda telah dikenal luas oleh keluarga, teman, dan masyarakat sebagai seorang “Eco-Muslim” atau Muslim Hijau. Karakter ini mewarnai seluruh keputusan hidup Anda: Anda selalu membawa tumbler dan kantong belanja kain ke mana pun pergi, menolak dengan tegas penggunaan sedotan plastik sekali pakai, aktif mengedukasi orang lain tentang gaya hidup minim sampah (zero-waste), dan merasa gelisah atau “sakit secara spiritual” jika melihat ada kerusakan alam di sekitar Anda. Menjaga bumi bukan lagi sekadar aktivitas berkala, melainkan sudah menjadi jalan hidup (way of life) Anda.
Akhlak kita kepada lingkungan adalah cerminan langsung dari kualitas keimanan kita kepada Allah SWT. Kelak di hari kiamat, bumi yang kita tinggali ini tidak akan diam. Ia akan berbicara dan melaporkan setiap rekam jejak perilaku kita di atas permukaannya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zalzalah: 4:
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
“Pada hari itu bumi menyampaikan berita-beritanya.”
Mari kita bangun akhlak yang manis dan hijau kepada alam semesta melalui penegakan Hablum Minal Bi’ah. Jadikan setiap jengkal tanah yang kita pijak, air yang kita gunakan, dan udara yang kita hirup sebagai saksi di hadapan Allah kelak bahwa kita adalah khalifah yang dipenuhi rasa kasih sayang, yang memakmurkan bumi, dan merawat kebersihan dan kesucian ciptaan-Nya.
*) Dr Wilnan Fatahillah, S.H.I., M.H., M.M., CFLS adalah Ketua Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah DPP LDII.












