Tabanan (18/3). Jelang Idul Fitri dan Nyepi, LDII Tabanan berkoordinasi dengan Kelian Adat Banjar Malkangin, I Komang Wijaya dalam menjaga Kamtibmas. Hal itu disampaikan Ketua DPD LDII Tabanan Maulana Sandijaya, dan Wakil Ketua DPD LDII Tabanan Imam Kambali, pada silaturrahim dengan Kelian Dinas dan Kelian Adat Banjar Malkangin, Desa Dajan Peken, Tabanan, pada Sabtu (7/3/2026).
“Tahun ini, Hari Raya Nyepi yang berbarengan dengan Idulfitri 1447 H menjadi momentum bagi umat Hindu dan muslim di Bali menjaga toleransi dan merekatkan tali persaudaraan,” kata Sandi
Sandijaya menjelaskan, pihaknya juga mendukung imbauan pemerintah dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) terkait pelaksanaan Nyepi yang kemungkinan bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri. Imbauan itu disebutkan, jika Idul Fitri 2026 jatuh pada 20 Maret, umat muslim diperbolehkan takbiran dengan sejumlah syarat. Mulai takbiran di masjid terdekat dengan berjalan kaki, tanpa pengeras suara, tanpa petasan atau mercon, dan tidak sampai larut malam.
“Seperti kita ketahui bersama, umat Hindu membutuhkan keheningan untuk kontemplasi dalam rangkaian tapa brata penyepian. Karena itu, kami warga LDII Tabanan memutuskan tidak melakukan kegiatan apapun di gedung sekretariat kami saat malam Nyepi,” ujar Sandijaya.
Saat menjalankan Nyepi, umat Hindu memiliki empat pantangan atau Catur Brata Penyepian, yakni amati geni (dilarang menyalakan api/lampu termasuk api nafsu), amati karya (dilarang melakukan kegiatan fisik/kerja), amati lelungan (dilarang berpergian ke luar rumah akan tetapi senantiasa introspeksi diri), dan amati lelanguan (dilarang mengadakan hiburan yang bertujuan untuk bersenang-senang).
Sandijaya mengajak warga LDII Tabanan untuk menjaga ketenangan saat Nyepi. Apabila ada warga LDII Tabanan yang ingin takbiran, maka dipersilakan mendatangi masjid terdekat di sekitar tempat tinggal. “Tetap perhatikan radius, jarak dari rumah ke masjid paling jauh 200 meter dengan cara berjalan kaki, tanpa membuat suara-suara yang mengganggu,” tegasnya.
Nyepi berdekatan dengan Idul Fitri ini menjadi momen pembuktian toleransi. Dua tahun sebelumnya, Nyepi juga bersamaan dengan Ramadan. Saat umat muslim berpuasa dan tarawih, umat Hindu tetap khidmat menjalankan tapa brata penyepian. “Ini adalah bukti, bahwa umat beragama di Bali tidak ada masalah meski hari besar berbarengan. Itu sudah beberapa kali terjadi, dan semua berjalan harmonis,” tandasnya.
Sementara itu, Kelian Adat Banjar Malkangin, I Komang Wijaya, mengapresiasi warga umat beragama lainnya yang tetap toleransi dan menjaga Kamtibmas. “Matur suksma, selama ini sudah ikut menjaga kerukunan dan kedamaian. Hal-hal positif seperti ini perlu dipertahankan dan diwariskan pada generasi muda,” ujarnya.
Senada dengan I Komang Wijaya, Kelian Dinas atau Kepala Kewilayah Banjar Malkangin, I Ketut Agus Suteja berharap toleransi antarumat beragama di Banjar Malkangin bisa terjaga, sehingga menciptakan kedamaian di tengah masyarakat yang majemuk. (ana)

