Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Haji Mabrur Apakah Itu?

2026/05/25
in Opini
0
Ilustrasi: AI-Generated, LINES.

Ilustrasi: AI-Generated, LINES.

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Wilnan Fatahillah

Setiap tahun, jutaan umat muslim kembali dari Tanah Suci dengan menyandang predikat baru yang amat sakral di tengah masyarakat yakni “Haji”. Tangis haru pecah di bandara dan asrama haji, pelukan hangat keluarga menyambut kepulangan mereka yang baru saja melintasi rute spiritual Makkah–Madinah. Namun, di balik kemeriahan tradisi penyambutan dan lambaian kain sorban, sebuah pertanyaan besar, sunyi, sekaligus menggetarkan jiwa bersenandung di dalam kalimah batin setiap jemaah: “Apakah haji saya diterima? Haji mabrur, apakah itu sebenarnya?”

Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi teologis yang sederhana. Bagi seorang mukmin, kemabruran adalah pertaruhan seumur hidup. Ia adalah batas pemisah antara perjalanan yang bernilai ibadah agung dengan perjalanan yang hanya membuang keringat, harta, dan waktu. Para ulama fikih dan ahli hadis telah membedah konsep ini secara mendalam. Fikih Islam tidak membiarkan kata “Mabrur” menjadi istilah yang mengawang-awang tanpa parameter. Melalui lisan suci Nabi Muhammad SAW, syariat telah memberikan cetak biru (blueprint) dan ciri-ciri yang sangat jelas mengenai apa dan bagaimana wujud nyata dari sebuah haji yang mabrur.

Secara etimologi (lughatan), kata *Mabrur* (مَبْرُوْر) berasal dari akar kata Al-Birr (الْبِرّ) yang berarti kebaikan, ketaatan, kesalehan, dan keluasan dalam berbuat baik. Dari akar kata yang sama, lahir istilah *Birrul Walidain* (berbakti kepada kedua orang tua). Dalam tinjauan istilah syariat (isthilahan), para ulama masyhur seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengemukakan beberapa definisi penting:

  1. Haji yang tidak ternodai oleh dosa: Sebuah ibadah yang bersih dari riya, sum’ah (ingin didengar), kesombongan, serta tidak dicampuri oleh perbuatan maksiat selama pelaksanaan ritual.
  2. Haji yang diterima (Al-Maqbul): Ibadah yang mendatangkan rida Allah SWT sehingga pelakunya mendapatkan balasan pahala yang sempurna.
  3. Haji yang melahirkan rekonstruksi perilaku: Ibadah yang tanda-tandanya terlihat secara visual setelah jamaah kembali ke tanah air, di mana kualitas kebaikan dan ketaatannya melompat jauh lebih tinggi dibanding sebelum ia berangkat.

Mengapa setiap Muslim begitu terobsesi mengejar predikat mabrur? Jawabannya terletak pada garansi mutlak yang diberikan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat hadis yang bertengger pada derajat kesahihan tertinggi (Muttafaqun ‘Alayh), dari jalur sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari No. 1773 & Muslim No. 1349).

Frasa “Laisa lahu jaza’un illal jannah” dalam kaidah bahasa Arab menggunakan uslub pembatasan (qashr) yang amat tegas. Tidak ada negosiasi, tidak ada alternatif lain; satu-satunya mata uang yang sah untuk membayar jerih payah haji yang mabrur adalah kapling di dalam surga Allah SWT. Oleh karena itu, memahami ciri-cirinya berdasarkan hadits Nabi menjadi sebuah kewajiban mutlak bagi setiap jemaah.

Rasulullah SAW secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan indikator konkret mengenai profil jemaah yang berhasil meraih predikat mabrur. Ciri-ciri tersebut terbagi menjadi dua dimensi besar: Dimensi Ritual Spiritual dan Dimensi Sosial Kemanusiaan.

Dimensi Sosial: Ith’amut Tha’am dan Thayyibul Kalam (Kepedulian dan Kesantunan)

Dimensi ini adalah indikator sosial yang paling tegas yang pernah diucapkan oleh Nabi SAW ketika para sahabat bertanya tentang hakikat dari Al-Birr di dalam haji. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad dan Al-Baihaqi, dikisahkan:

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُورُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah haji mabrur itu?” Beliau menjawab: “Memberi makanan dan menebarkan kedamaian (salam).” (HR. Ahmad No. 14480).

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Imam Al-Hakim dalam kitab *Al-Mustadrak*, lafaz bagian akhirnya berbunyi:

إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَطِيبُ الْكَلَامِ

“…Memberi makanan dan bertutur kata yang baik (santun).” (HR. Al-Hakim No. 1674).

Dari dua hadis di atas, Rasulullah SAW menetapkan dua ciri utama haji mabrur yang bersifat horizontal (hubungan sesama manusia):

  1. Memiliki sensitivitas sosial yang tinggi (Ith’amut Tha’am): Haji mabrur tidak melahirkan pribadi yang egois. Sepulang dari Makkah, jemaah haji yang mabrur akan memiliki mata yang lebih peka terhadap perut-perut kelaparan di sekitarnya. Ia menjadi donatur terdepan dalam mengentaskan kemiskinan, gemar bersedekah, dan merasakan bahwa hartanya adalah amanah untuk membantu kaum duafa.
  2. Transformasi lisan yang menyejukkan (Thiybul Kalam/ Ifsya’us Salam): Sebelum berangkat haji, mungkin lisannya gemar bergosip (ghibah), memfitnah, atau berbicara kasar. Namun, sepulang dari tawaf dan wukuf, lisannya berbalik menjadi magnet kedamaian. Kata-katanya santun, penuh zikir, tidak menyakiti hati tetangga, dan kehadirannya di tengah masyarakat selalu membawa keteduhan serta mendamaikan konflik.
  3. Dimensi spiritual: Meninggalkan rafats, fusuq, dan jidal.

Ciri berikutnya adalah kemampuan jemaah untuk mengerem dan mematikan ego buruknya selama berpakaian ihram, yang kemudian berlanjut menjadi karakter permanen pasca-haji. Hal ini berlandaskan teks Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 197 yang kemudian ditekankan kembali oleh Nabi SAW dalam hadis :

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yang berhaji karena Allah lalu dia tidak berkata keji (rafats) dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali suci seperti hari ibunya melahirkannya.” (HR. Bukhari No. 1521 & Muslim No. 1350).

Berdasarkan hadis ini, maka jemaah haji mabrur berhasil melintasi tiga ujian moral terbesar yaitu:

  1. Bebas dari rafats: Tidak hanya menahan diri dari hubungan seksual saat ihram, tetapi juga bersih dari segala bentuk perkataan yang menyerempet pornografi, rayuan murahan, dan syahwat lisan.
  2. Bebas dari fusuq: Menghindari segala bentuk perbuatan keluar dari ketaatan kepada Allah, seperti melanggar aturan-aturan syariat maupun aturan ketertiban umum demi ego pribadi.
  3. Bebas dari jidal Perdebatan): Di tengah kepadatan antrean maktab, bus, maupun antrean toilet di Mina yang menguji emosi pada pelaksanaan haji kekinian, ia memilih mengalah, bersabar, dan tidak menyulut pertengkaran dengan sesama jamaah.

Bagaimanakah kita bisa melihat ciri haji mabrur tersebut pada diri kita hari ini setelah kembali ke tanah air? Jawabannya dirumuskan secara brilian oleh para ulama salaf di antaranya seperti Imam Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama tabiin terkemuka, memberikan rumusan psikologis-spiritual yang sangat menyentuh hati:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ أَنْ يَرْجِعَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ

“Haji yang mabrur itu adalah ketika seseorang kembali (ke tanah airnya) dengan keadaan zuhud terhadap urusan dunia, dan penuh cinta (bersemangat) terhadap urusan akhirat.”

Indikator ini laksana cermin bagi setiap jamaah. Jika sepulang haji ia semakin rakus terhadap harta dengan menghalalkan segala cara, semakin gila terhadap jabatan, dan mengabaikan salat berjamaah, maka ia harus menangis dan bertobat atas kualitas hajinya. Namun, jika ia melihat dunia sekadar sebagai alat di tangan (bukan di dalam hati) untuk meraih rida Allah, selalu merindukan saf terdepan di masjid, dan matanya mudah menangis saat mendengar ayat Al Quran, maka itulah tanda-tanda nyata (amarah) bahwa mahkota mabrur telah diletakkan di atas kepalanya.

Pada era modern ini, tantangan menjaga kemabruran haji mengalami pergeseran bentuk. Musuh utama jemaah kontemporer bukan lagi perjalanan berat menunggang unta kurus di tengah gurun, melainkan “Riya Digital”. Banyak jamaah yang saat melakukan tawaf atau berada di depan Kabah justru sibuk melakukan siaran langsung (live streaming) atau berswafoto (selfie) demi mengejar ketukan tanda suka (likes) di media sosial. Fenomena ini dianggap dapat merusak keikhlasan yang menjadi pilar utama haji mabrur. Rasulullah SAW saat bertolak menuju tempat miqat senantiasa berdoa memohon keikhlasan yang sunyi:

اللَّهُمَّ حَجَّةً لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ

“Ya Allah, jadikanlah ini ibadah haji yang tidak ada riya di dalamnya dan tidak pula sum’ah.” (HR. Ibnu Majah No. 2890).

Haji mabrur di era kekinian adalah mereka yang mampu mengendalikan jemarinya dari pamer spiritual. Mereka adalah jemaah yang ketika berada di tengah kepadatan ruang mabit Muzdalifah dan Mina, justru memberikan tempat duduknya untuk jamaah lansia, menghormati hak sesama, dan menaati aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah demi kemaslahatan bersama. Inilah hakikinya aktualisasi dari ith’amut tha’am dan ifsya’us salam di era modern.

Untuk meraih predikat haji mabrur, sebelum melangkah pada ritual fisik di tanah suci, fondasi paling mendasar yang menentukan diterima atau ditolaknya sebuah ibadah haji adalah kehalalan rezeki yang digunakan sebagai ongkos perjalanan. Harta yang syubhat, apalagi yang haram dari hasil korupsi, judi, riba, atau menipu, secara otomatis meruntuhkan peluang meraih haji mabrur sejak langkah pertama di pintu rumah. Walaupun secara epistemologi fikih empat mazhab, para ulama (seperti Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanafi) menjelaskan bahwa orang yang berhaji dengan uang haram secara formalitas hukum dunianya gugur kewajiban hajinya (tidak wajib mengulang), namun di sisi Allah ibadahnya tidak mendapatkan pahala (tidak diterima/tidak mabrur) dan ia tetap memikul dosa dari keharaman hartanya tersebut. Tetapi Mazhab Hambali (Imam Ahmad) mengambil sikap lebih keras, yaitu menyatakan hajinya batal dan tidak sah sama sekali.

Dalam kitab *Al-Mu’jam al-Awsath* karya Imam At-Thabarani, terdapat sebuah riwayat riwayat dari Abu Hurairah RA yang secara spesifik memotret kontras antara jamaah yang berangkat dengan nafkah halal dan jamaah yang berangkat dengan nafkah haram. Haji mabrur menuntut bekal dari harta yang halal, karena rezeki yang haram seperti hasil riba atau korupsi menyebabkan talbiyah ditolak dengan seruan *”laa labbaik wa laa sa’daik”.* Hadis riwayat At-Thabarani menekankan bahwa nafkah haram menjadikan haji berdosa, bukan mabrur, dengan konsekuensi fikih yang berat.  Imam At-Thabarani dalam kitab *Al-Mu’jam al-Awsath* mengenai penolakan malaikat terhadap haji yang menggunakan harta haram :

إِذَا خَرَجَ الْحَاجُّ حَاجًّا بِنَفَقَةٍ طَيِّبَةٍ وَوَضَعَ رِجْلَهُ فِي الْغَرْزِ فَنَادَى لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ نَادَاهُ مُنَادٍ مِن السَّمَاءِ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ زَادُكَ حَلَالٌ وَرَاحِلَتُكَ حَلَالٌ وَحَجُّكَ مَبْرُورٌ غَيْرُ مَأْزُورٍ، وَإِذَا خَرَجَ بِالنَّفَقَةِ الْخَبِيثَةِ فَوَضَعَ رِجْلَهُ فِي الْغَرْزِ فَنَادَى لَبَّيْكَ نَادَاهُ مُنَادٍ مِن السَّمَاءِ لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ زَادُكَ حَرَامٌ وَنَفَقَتُكَ حَرَامٌ وَحَجُّكَ مَأْزُورٌ غَيْرُ مَبْرُورٍ

“Jika seorang jemaah haji berangkat berhaji dengan nafkah (bekal) yang baik (halal), lalu ia meletakkan kakinya di atas pelana (kendaraan) kemudian berseru: ‘Labbaykallahumma labbayk’ (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu), maka seorang penyeru dari langit akan berseru kepadanya: ‘Labbayka wa sa’dayk’ (Selamat datang dan berbahagialah), bekalmu halal, kendaraanmu halal, dan hajimu mabrur tanpa dosa. Sebaliknya, jika ia berangkat dengan nafkah (bekal) yang khabits (buruk/haram), lalu ia meletakkan kakinya di atas pelana (kendaraan) kemudian berseru: ‘Labbayk’, maka seorang penyeru dari langit akan berseru kepadanya: ‘Lā labbayka wa lā sa’dayk’ (Tidak ada penyambutan untukmu dan tidak ada kebahagiaan bagimu), bekalmu haram, nafkahmu haram, dan hajimu berdosa, tidak mabrur.” (HR. At-Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Awsath No. 5228)

Hadis ini adalah salah satu teks paling menggetarkan jiwa dalam rumpun targhib wat tarhib (motivasi dan peringatan) terkait ibadah haji dan kurban. Rasulullah SAW sedang membuka tabir metafisik tentang apa yang terjadi di langit ketika seorang hamba mengumandangkan kalimat Talbiyah. Di sini, kita diajak untuk melihat bahwa ibadah tidak melulu soal gerakan fisik, melainkan soal kesucian asal-usul harta yang menopangnya. Kalimat “Labbaykallahumma Labbayk” adalah sebuah pernyataan penyerahan diri total. Namun, hadis ini menegaskan adanya paradoks spiritual. Bagaimana mungkin seorang hamba mengetuk pintu rumah Allah yang Mahasuci, sementara tubuhnya tumbuh dari makanan haram, pakaian ihramnya dibeli dari uang suap, dan kendaraan hajinya dibiayai dari hasil riba? Jawaban dari langit berupa “Lā labbaika wa lā sa’daik” (Tidak ada penyambutan dan tidak ada kebahagiaan untukmu) adalah bentuk penolakan paling tragis. Hal ini selaras dengan hadis sahih riwayat Imam Muslim:

Dalam lembaran kitab hadis sahih, Rasulullah SAW memberikan peringatan universal yang sangat keras mengenai hubungan antara ketertolakan ibadah dengan makanan dan harta yang haram:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim No. 1015).

Haji mabrur bukanlah sebuah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah fajar baru bagi kehidupan seorang Muslim. Ia adalah momentum kelahiran kembali. Meraih predikat mabrur di tanah suci memang membutuhkan perjuangan fisik yang luar biasa, namun menjaga kemabruran di tanah air sepanjang sisa usia adalah perjuangan yang jauh lebih besar. Bagi Anda yang telah menyandang gelar haji, jagalah lentera itu agar sinarnya tetap menerangi rumah tangga Anda, lingkungan kerja Anda, dan masyarakat luas. Jadilah mata air kebaikan yang selalu membagikan kesantunan tutur kata dan kelapangan sedekah.

Bagi kita yang dadanya masih bergemuruh merindukan panggilan suci tersebut, mari kita hiasi masa penantian kita dengan melatih karakteristik haji mabrur sejak hari ini di rumah kita masing-masing. Kita ketuk pintu langit dengan untaian doa agung yang selalu kita rindukan:

اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ وَعَرَفَةَ، وَارْزُقْنَا الْحَجَّ الْمَبْرُورَ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Allah, sampaikanlah kami ke kota Makkah, Madinah, dan padang Arafah. Anugerahkanlah kepada kami haji yang mabrur, terimalah amalan kami, ampunilah kami, dan sayangilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami dalam menghadapi kaum yang kafir.”

اللَّهُمَّ يَسِّرْ لَنَا سُبُلَهَا، وَقَرِّبْ لَنَا بَعِيدَهَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي رِزْقِنَا وَأَعْمَارِنَا لِنَكُونَ مِنْ وَفْدِكَ الْمَقْبُولِينَ

“Ya Allah, mudahkanlah jalannya bagi kami, dekatkanlah jaraknya yang jauh dari kami, serta berkahilah rezeki dan umur kami, agar kami benar-benar menjadi bagian dari rombongan tamu-Mu yang diterima.”

Semoga Allah SWT menerima setiap jengkal niat baik kita, mengampuni segala khilaf, dan mempertemukan kita semua di pelataran Ka’bah dalam rengkuhan rida dan magfirah-Nya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

*) Dr. Wilnan Fatahillah, S.H.I, M.H, M.M., CFLS adalah Ketua Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPP LDII

Tags: Haji MabrurmuslimZulhijah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • AngkaDH on LDII Tangsel Hadiri Pengajian MUI, Perkuat Ukhuwah dan Sinergi Keagamaan
  • Saidah on Menko PM Cak Imin Apresiasi Skema Armuzna Kemenhaj, Optimistis Puncak Haji Berjalan Lancar
  • AngkaDH on DPP LDII Ingatkan Bahaya Belajar Sejarah, Tapi Tak Pernah Mengambil Hikmahnya
  • ardam corp on DPP LDII Ingatkan Bahaya Belajar Sejarah, Tapi Tak Pernah Mengambil Hikmahnya
  • Mutahar,spd on DPP LDII Ingatkan Bahaya Belajar Sejarah, Tapi Tak Pernah Mengambil Hikmahnya
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Desainer Ida Royani Bahas Peran Sentral Ibu dalam Pengajian Wanita LDII Padang

Desainer Ida Royani Bahas Peran Sentral Ibu dalam Pengajian Wanita LDII Padang

May 21, 2026
Musyrif Diny PPIH Arab Saudi, KH Sabela Rosyada

Apa Itu Murur dan Tanazul? Ini Penjelasan Musyrif Diny

May 21, 2026
Wamenhaj RI Dahnil Anzar Simanjuntak

Dam Tamattu’ Tembus 126 Ribu, Kemenhaj: Peningkatan Luar Biasa

May 23, 2026
Kemenag Tetapkan Idul Adha, LDII Berpartisipasi Amati Hilal

Kemenag Tetapkan Idul Adha, LDII Berpartisipasi Amati Hilal

May 18, 2026
Musyrif Diny PPIH Arab Saudi, KH Sabela Rosyada

Apa Itu Murur dan Tanazul? Ini Penjelasan Musyrif Diny

9
Mensyukuri Nikmat di Atas Piring: Mengingat Peran Petani Padi

Mensyukuri Nikmat di Atas Piring: Mengingat Peran Petani Padi

6
DPP LDII Ingatkan Bahaya Belajar Sejarah, Tapi Tak Pernah Mengambil Hikmahnya

DPP LDII Ingatkan Bahaya Belajar Sejarah, Tapi Tak Pernah Mengambil Hikmahnya

6
Desainer Ida Royani Bahas Peran Sentral Ibu dalam Pengajian Wanita LDII Padang

Desainer Ida Royani Bahas Peran Sentral Ibu dalam Pengajian Wanita LDII Padang

6
Haji Mabrur Apakah Itu?

Haji Mabrur Apakah Itu?

May 25, 2026
Haji Ritual yang Dinanti

Haji Ritual yang Dinanti

May 25, 2026
Cemburu

Cemburu

May 25, 2026
SMA Insan Mulia Boarding School Latih Karakter dan Kemandirian Siswa

SMA Insan Mulia Boarding School Latih Karakter dan Kemandirian Siswa

May 25, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Haji Mabrur Apakah Itu? May 25, 2026
  • Haji Ritual yang Dinanti May 25, 2026
  • Cemburu May 25, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.